Kini di umurnya yang sudah genap 8th Luna menjadi lebih dewasa dari anak sebayanya.
Kehidupan Luna mulai terusik ternyata di tempat tinggal neneknya.
Masa lalu Junghee yang banyak diketahui oleh para tetangga. Mereka bergunjing dibelakang keluarga Park [Marga Junghee].
Suatu hari Luna yang sedang berjalan sepulang dari sekolah ia mendapati barisan bunga-bunga liar di pinggir jalan. Ia berjongkok menatap bunga-bunga kecil di pinggir jalan itu, menyentuhnya dengan lembut.
Dalam hatinya ia merasa bunga-bunga itu sama sepertinya, kecil tidak berdaya dan dipandang sebelah mata oleh semua orang. Tiba-tiba segerombolan anak datang menghampirinya.
"Hei babo!"panggil satu anak kepadanya.
Tapi Luna tidak menghiraukannya ia masih memperhatikan bunga-bunga liar tersebut.
"Babo...Kau tuli yah!"anak yang menggangu Luna pun kesal karna tidak ada reaksi dari Luna maka ia menginjak bunga-bunga liar itu dan mendorong Luna hingga tersungkur membuat pakaiannya kotor terkena tanah.
"Ya!! Apa yang kalian lakukan!"teriak satu anak laki-laki yang baru datang.
"Kenapa kau, apa kau kasihan sama anak babo ini!"
"Babo? Apa maksud kalian babo...Pergi sana jangan sampai aku pukul kalian!"
Gerombolan anak itupun pergi.
Anak laki-laki itu melihat Luna yang kotor. "Gwenchana?"tanya anak laki-laki itu.
Luna mengangguk.
"Kenapa kau diam saja saat mereka menyebutmu dengan sebutan Babo?"
"Aku memang Babo, karna aku tidak pintar."jawab Luna sembari membersihkan lumpur yang menempel di celana nya.
"Sini biar kubantu." dengan perhatian anak laki-laki itu membersihkan celana Luna.
Luna tertegun melihatnya.
Usai membersihkan celana Luna, anak laki-laki itu melihat tanaman yang diinjak-injak anak-anak nakal tadi.
"Kejam sekali mereka, bunga ini kan tidak bersalah sama sekali."
"Kau suka bunga?"tanya Luna dengan nada suara yang pelan bahkan hampir berbisik.
"Ne, aku suka bunga. Bunga ini namanya dandelion. Ia bunga yang bisa tumbuh dimana saja. Dan mereka adalah bunga yang kuat."
Luna memperhatikan anak laki-laki itu saat ia membicarakan tentang bunga.
Sepertinya ia merasa diperhatikan oleh Luna lalu ia menghentikan kata-katanya dan menatap Luna.
Membuat nya kaget dan tertunduk.
"Em, kapan tanggal lahirmu?"tanya anak laki-laki itu.
"eh?" Luna bingung.
"Tanggal lahirmu?"anak laki-laki itu kembali menekankan pertanyaannya kembali.
"12 agustus."jawab Luna.
"Gladiol......"
"Ye?"Luna tambah bingung.
"Bungan kelahiran mu adalah Gladiol."
"Gladiol? Bunga apa itu?" Luna baru mendengar nama bunga tersebut.
"Kembali lagi besok akan aku beritahu bunga apa itu. Jam yang sama ya."ujar anak laki-laki itu.
"Mwo?"
"Kau ini memang hobi membuat orang mengatakan sesuatu untuk yang kedua kali ya. Hehe."
"Eh?"
"Nah itu dia maksudku. Aku pergi dulu ya. Annyeong...." dan iapun pergi berlalu meninggalkan Luna yang masih penuh tanya.
Keesokan harinya Luna bergegas pulang seusai sekolah, ia berharap bisa bertemu lagi dengan anak laki-laki itu. Sesampainya ia disana ia tidak mendapati siapapun di tempat itu.
Kekecewaan tersirat dari wajah polos Luna. Dilihatnya bunga dandelion yang kemarin rusak terinjak.
Tapi anehnya sudah kembali seperti semula.
"Sudah kubilang kan bunga-bunga itu kuat. Ia kembali segar seperti semula."kedatangan anak laki-laki itu mengagetkan Luna.
"Kaauuu mengagetkanku.....Hiks...."
"Eh, wae? Kenapa menangis?"
"Aku tidak menangis....."elak Luna.
"Eiiii....Itu apa air mata bukan?"anak laki-laki itu malah terus menggoda Luna sampai akhirnya ia menangis sangat kencang.
"Aigooo....Uljimaaa....Eotteokaee.....Aishhh....Uljima....Nanti kubawa kau ke suatu tempat ya."bujuknya.
"Eodi?" seketika tangis Luna berhenti walau air matanya belum berhenti menetes.
"Nah khaja....Akan kuantar kau ke suatu tempat." anak laki-laki itu mengajak Luna dengan membonceng sepedanya.
Mereka tiba di sebuah tempat yang dipagari oleh dinding yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan merambat dan ada pintu kayu yang terlihat sangat tua yang hanya setinggi 1 meter.
Pelan anak laki-laki itu membuka pintu yang pegangannya sudah berkarat.
Luna agak takut jadi ia mundur dua langkah.
"Gladiol, jangan takut kau pasti akan suka tempat ini." seraya menjulurkan tangannya ke Luna.
Luna pun meraih uluran tangannya dan masuk ke tempat itu.
Alangkah terkejutnya Luna ternyatanya terdapat sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga.
Taman itu terlihat tak terurus tapi tetap tidak kehilangan keindahannya.
Langkah Luna tertuju kepada bunga yang tangkainya berisi bertumpuk-tumpuk bunga berwarna pink.
"Gladiol kau sudah mengenali bunga kelahiranmu ternyata."ujar anak laki-laki itu.
"Ini gladiol....Cantik sekali....."Luna mengamati bunga di hadapannya itu sambil berjongkok.
Anak laki-laki itu mengamati Luna sambil tersenyum.
"Biar kuberitahu Gladiol mempunyai arti kenangan, ketulusan, kemurahan hati dan juga pendirian yang teguh."
"Em, tapi namaku bukan gladiol....."ujar Luna.
"Ne, ara...Aku tahu kau pasti punya nama. Tapi aku lebih senang memanggilmu dengan sebutan Gladiol."
"Em...Kalau begitu bagaimana aku harus memanggilmu?"tanya Luna.
"Mengingat aku lebih tua darimu kau bisa memanggilku dengan 'oppa', ottae?"
"Hanya 'oppa'? Kalau begitu apakah disini ada bunga kelahiran oppa?"
Anak laki-laki itu terkekeh mendengar Luna menyebutnya dengan 'oppa'.
"Ehem....Kita tidak bisa menemukannya saat ini."jawabnya.
"Wae?"
"Karna ini belum memasuki bulan desember jadi kita belum bisa melihatnya saat ini."
"Bulan kelahiran oppa desember? Kalau begitu apa nama bunga kelahiran desember?"tanya Luna antusias.
"Namanya Bunga Poinsettia kau bisa menemukannya saat natal."
"Artinya?"
"Hemmmm.....Kau bisa mencari tahu sendiri ya. Sudah sore mari kita pulang."
"Besok apa kita bisa bertemu lagi Poin.....se......."Luna kesulitan mengucapkan nama Poinsettia.
Setelah beberapa saat barulah ia meneruskan kalimatnya "Po oppa....."
"Kau yakin? Jangan menyesal ya...." tiba-tiba anak laki-laki itu mencium bibir Luna.
Luna kaget dibuatnya hingga ia cegukan.
"Hik...Hik...."cegukan nya tidak berhenti.
"Aigooo....Kenapa bisa cegukan seperti ini...?"anak laki-laki itu bingung.
Saat ia meniup-niup kepala Luna akhirnya berhenti cegukannya.
"Kenapa oppa menciumku?"pikiran Luna yang masih polos tidak berpikir kalau ia baru saja mendapatkan ciuman pertama.
"Bukannya kamu tadi yang minta di - Po?"ledeknya dengan usil.
"Benarkah?"tanya Luna lagi dengan polosnya hingga membuat anak laki-laki itu tertawa.
"Cukup panggil oppa saja. Hari sudah mulai sore biar oppa antar kau pulang ya."
Luna mengangguk tanda setuju.
Di perjalanan pulang anak laki-laki itu menghentikan sepedanya.
"Appa......."ia memanggil seseorang dari kejauhan.
"Itu appanya oppa ya?"tanya Luna.
"Ne...."
"Kalau begitu aku berhenti sampai disini saja oppa. Rumahku tidak jauh dari sini. Annyeong Po Oppa."
"Eh....Gladiol...."panggil anak laki-laki itu tapi langkah Luna sudah semakin menjauh.
"Aigo, appa cari kau kemana-mana ternyata kau ada disini. Gadis kecil tadi siapa?"
"Dia gladiol, gadis kecil yang baru kutemui."
"Uri adeul ternyata....."ledek appanya.
"Aishhh, appa sudah jangan menggodaku."
"Malam ini kita pulang ya."
"Secepat itu appa?"
"Nde, kita kesini hanya untuk mengunjungi makam eomma mu dan kebetulan appa juga mengunjungi sahabat appa disini. Karna urusan kita selesai jadi kita kembali."
"Ne, algaesseumnida appa...."
Anak laki-laki itu sedikit kecewa karna ia tidak tahu kapan lagi ia bisa bertemu dengan Gladiol a.k.a Luna.
***** End Gladiol - Childhood Game of Love*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar