Selasa, 11 September 2012

Don't Say Sorry - Part 1


미안하다고 말 하지마 - mianhadago mal hajima



“Yeol Mae, bantu aku mempersiapkan fashion show kami berikutnya ne?”
“Jae Kyung, kau ini kenapa harus selalu aku?”
“Yeol Mae...Saat ini kami kekurangan orang dan kau tahu kami tidak sanggup membayar tambahan pekerja. Hanya kau sahabatku yang bisa aku repotkan. Ne?”
“Ya! Apa karena aku single tidak seperti kau dan Ji Hee yang sudah berumahtangga????”
“Yeol Mae-ya.....Jebal....Uhm?”
Seperti biasa akting aegyo dari Jae Kyung selalu berhasil membuat Yeol Mae menyerah.

Joo Yeol Mae, Seon Jae Kyung dan Woo Ji Hee adalah tiga sekawan yang sudah berteman semenjak sekolah menengah atas. Sekarang mereka sama-sama berumur 30th.
Seon Jae Kyung menikah dengan Jung Min cinta pertamanya semenjak SMA dan sama-sama mereka mengelola perusahaan mereka di bidang fashion khususnya sepatu.
Woo Ji Hee yang gagal menikah dengan seorang dokter lalu jatuh cinta kepada teman sekerjanya Kim Tae Woo, mereka menikah dan sekarang Ji Hee sedang mengandung anak pertama mereka.
Hanya Yeol Mae saja yang belum menikah.

Dan seperti biasa Yeol Mae tidak bisa menolak keinginan Jae Kyung, karena pekerjaannya sebagai komposer sedang tidak begitu sibuk jadi ia bisa membantu Jae Kyung.

“Ya, Joo Yeol Mae kau memang selalu bisa kuandalkan.” puji Jae Kyung melihat kerja keras Yeol Mae saat membantunya.
“Mwo? Mwo? Apa yang mau kau suruh lagi padaku?” seakan tahu maksud Jae Kyung, Yeol Mae hanya bisa merengutkan wajahnya.
“Kekekeke, kau tahu saja Yeol Mae. Uhm, tolong aku belikan kopi di kafe terdekat ya. Kalau tidak salah ada kafe yang juga tidak jauh dari sini dekat studio mu. Namanya Atwosome coffee shop.”
“Ne, algaesseumnida.”tanpa membantah iapun menuruti kata-kata Jae Kyung. Karena ia tahu pasti Jae Kyung akan terus merengek kalau keinginannya tidak dituruti.

Sambil melihat sekeliling jalan akhirnya ia menemukan coffee shop yang dimaksud Jae Kyung.
Dan benar saja letaknya tidak jauh dari studio rekaman Yeol Mae.
“Bagaimana Jae Kyung tahu ada coffee shop di dekat studio milikku?” gumam Yeol Mae.
Suasana kafe yang begitu nyaman membuat Yeol Mae mengarahkan kedua matanya ke seluruh sudut kafe.
Sampai... “Aduh....” tubuh Yeol Mae menabrak seseorang. Dan rambutnya hampir tersangkut kemeja orang yang ditabraknya.
“Jusonghamnida....”ucap orang yang ditabrak Yeol Mae.
“Ani....Aku yang minta maaf. Mianheyo.” setelah meminta maaf Yeol Mae pun berlalu untuk memesan kopi yang dipesan oleh Jae Kyung. Dan kembali ke tempat Jae Kyung.

Dua hari kemudian di Studio Yeol Mae.
Yeol Mae terkenal sebagai seorang komposer yang disiplin terhadap artis garapannya. Tak jarang penyanyi yang datang kepadanya harus terus mengulang.
“Aiguuu...Kenapa kalian selalu saja mengulang kesalahan yang sama. Okay, break time 30menit. Kita ulang lagi nanti.” ujar Yeol Mae.
Ia pun berlalu meninggalkan studio.
“Aaah, aku belum lapar tapi sudah waktunya makan siang apa aku ke coffee shop yang itu ya?” gumamnya.
“Ne...Kajjaaaa...”serunya kepada dirinya sendiri.

“Yogie, aku pesan americano dan apa kau punya waffle?”tanya Yeol Mae kepada staf coffee shop.
“Jusonghamnida, tapi kami tidak menyediakan waffle kecuali untuk Breakfast set.”
“Oh...Uhm tapi aku....”
“Ani, kami akan menyediakan pesanan yang anda minta.” ujar seorang yang terlihat seperti pemilik dari coffee shop tersebut.
“Jongmal?”tanya Yeol Mae dengan senyum senang.
“Ye, waffle apa yang anda inginkan. Ini ada beberapa menu waffle kami.”ujarnya seraya menyodorkan waffle menu.
Mata Yeol Mae naik turun membaca buku menu tersebut.
“Uhm, yogie...Uhm....”ujarnya ragu dan kembali melihat waffle menu.
“Apa diantaranya tidak ada yang sesuai selera anda?”
“Begini....Uhm aku ingin makan siang tapi sebenarnya aku tidak begitu lapar. Ottae?”
Pemilik coffee shop itu terlihat bingung tapi kemudian seperti memikirkan sesuatu.
“Okay....Sepertinya aku punya sesuatu yang cocok untuk anda. Apa anda menyukai strawberry?”
“Uhm...Nomu choa.”
“Chakamanyo, aku akan segera menyiapkan pesanan anda. Silakan tunggu.”
“Ne, gomapsseumnida sajangnim.”dengan tersenyum Yeol Mae pun duduk sambil menunggu.

“Hyung, apa tidak apa-apa seperti itu?”tanya staf coffee shop.
“Ne, kita harus mementingkan pelanggan.”
“Tapi wanita itu bukan pelanggan kita kan hyung?”
“Aish, jincha! Apa yang kau katakan! Semua yang datang ke coffee shop kita adalah pelanggan. Dan pelanggan adalah raja.”
“Ne, arasseo hyung.”

Tak berapa lama pesanan Yeol Mae pun tiba. Ia terlihat bingung dengan waffle yang dibawa oleh pemilik coffee shop tersebut.
“Yogie...?”
“Creme Brulee Waffle. Anda bilang ingin makan siang tapi tidak begitu lapar. Nah, ini pilihan tepat. Cicipilah.”
“Nde...” Yeol Mae mencicipi waffle tersebut.
“Ottae?”
“Masittaaaa....Nomu nomu choa.....Gamsahamnida sajangnim.”ujarnya.
Pemilik coffee shop itu tersenyum puas.
“Nikmati makan siang anda.”
“Ne.....”
Pemilik coffee shop itu pun berlalu meninggalkan meja Yeol Mae.
* Ponsel Yeol Mae berdering *
“Yaaa.. Seon Jae Kyung apa lagi yang kau inginkan dariku.”
Menyadari suaranya yang agak keras Yeol Mae pun meminta maaf ke sekeliling terutama sang pemilik coffee shop yang berdiri di belakangnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

Hari minggu yang cerah, tiga sekawan itu berkumpul di apartemen Yeol Mae.
Mereka menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol sepanjang hari.
“Yeol Mae-ya....Apa kau tidak lelah sendirian di umurmu sekarang?”tanya Jae Kyung.
“Ne, Yeol Mae. Apa kau tidak kesepian?” tambah Ji Hee.
“Ani...Nan haengbokae.”jawab Yeol Mae.
“Keundae.....Nae chingu.....” sebelum Jae Kyung meneruskan kata-katanya Yeol Mae pun berkata.
“Ya! Seon Jae Kyung! Apa kau berniat membuatkan aku blind date lagi? Huh?”cecar Yeol Mae.
“Yeol Mae-ya....Pria ini berbeda...”
“Tetap saja, aku Joo Yeol Mae. Mana ada pria yang tertarik padaku. Aku tidak seperti kalian. Aku tidak cantik dan menarik. Dan pria akan lelah menghadapi wanita sepertiku.”
“Jebal Yeol Mae....Untuk sekali ini saja. Paling tidak kalian berkenalan dari sms. Tidak perlu blind date dulu. Kalau kau tidak mau atau memutuskan untuk menolak pria itu juga tidak apa-apa paling tidak kalian saling mengenal dahulu. Ne?”
“Mwo? Sms? Yak. Seon Jae Kyung! Jangan bilang kau sudah memberikan nomorku padanya!”
“Mian....” jawab Jae Kyung seraya bersembunyi di balik Ji Hee.
“Seon Jae Kyuuuunnnggg...” Yeol Mae mengambil bantal kecil lalu memukul-mukulkannya ke Jae Kyung. Ji Hee sibuk meredakan perkelahian kekanakan dari keduanya sampai ponsel Yeol Mae berdering.
“Cukupppp...Yeol Mae ponsel mu ...”ucap Ji Hee sambil menyerahkan ponsel Yeol Mae.

SMS : “Annyeong, Na.. Jae Kyung chingu. Uhm, mungkin kau sudah dengar aku dari Jae Kyung atau mungkin tidak. Kekekekeke....Oh..Namaku Ji Hoon...Mannaseo bangapsseumnida Yeol Mae ssi”

Tanpa disadari Yeol Mae, Jae Kyung dan Ji Hee diam-diam membaca sms itu.
“Ya! Kalian mengintip yaaaaaa....Aish....” buru-buru Yeol Mae menyembunyikan ponselnya.
“Aiguuu....Nae chingu.” reaksi Jae Kyung saat mengetahui sms Ji Hoon.
“Apa kau tidak mau membalasnya?”tambah Ji Hee.
“Ani...Wae?”
“Apa kau takut?” ledek Jae Kyung.
“Aniiiiii.... Keurae....Aku akan membalas sms nya.”

SMS : “Annyeong Ji Hoon ssi, ne aku sudah mendengar tentangmu dari Jae Kyung. Na tto bangapsseumnida.”

“Aiguuuuu... Uri Yeol Mae...” ledek Jae Kyung dan Ji Hee bersamaan.
“Cukup....Kalian ini. Ya..Seon Jae Kyung sebenarnya ia siapa?”
“Nama nya Shin Ji Hoon, aku mengenalnya dari Jung Min. Karena aku sering bergabung dengan teman-teman Jung Min maka dari itu aku juga lumayan dekat dengan Ji Hoon. Ia pria yang baik.”
“Jongmalyo?” tanya Yeol Mae.
“Uhm...” balas Jae Kyung dengan yakin.

Malam itu setelah Jae Kyung dan Ji Hee pergi, ia masih menerima beberapa sms dari Ji Hoon.
Yeol Mae menanggapinya dengan tenang.
“Uhm, mungkin pria ini memang pria yang baik. Dia teman Jung Min berarti setahun lebih tua dariku.” gumam Yeol Mae sambil menatapi ponselnya.

Percakapan mereka lewat sms pun berlanjut.

Sudah genap dua minggu percakapan sms tersebut terjadi. Saat ini Yeol Mae sedang disibukan oleh pekerjaannya. Ia sedang mengkomposeri sebuah soundtrack film.
Ia bekerja siang dan malam, tanpa ia sadari sms dari Ji Hoon pun ia acuhkan.
Suatu malam Yeol Mae melihat lima panggilan tak terjawab dari Shin Ji Hoon.
“Igeo mwoya? Kenapa banyak sekali panggilan tak terjawab darinya? Aneh biasanya ia hanya melakukan percakapan sms denganku.” gumam Yeol Mae.
“Yeol Mae ssi kita masih harus mengedit bagian chorusnya.”seorang staf dari bagian recording membuyarkan lamunannya.
“Ne, algaesseumnida.”
Rasa penasaran Yeol Mae pun terlupakan.

Akhirnya pekerjaan Yeol Mae selesai.
“Aaaahhhh....Punggungku rasanya sakit sekali. Sudah jam berapa ini? Sudah berapa lama aku di studio? Ah, benar sudah tiga hari sejak dateline.”
Iapun pergi membasuh wajah dan ia merasa sangat lapar.
“Ne, tentu saja aku lapar. Sudah tiga hari aku tidak keluar. Waffle time!”
Ia bergegas ke coffee shop dekat studio miliknya.

“Jogiyo, apa aku masih bisa memesan menu waffle?”tanya Yeol Mae ke staf coffee shop.
“Ah ye, nona sangat menyukai waffle ya. Apa anda mau Creme Brulee Waffle?”
“Ani....Aku sangat sangat sangat lapar apa kau punya menu waffle yang bisa membuatku kenyang? Hehehe...”
“Tentu saja ada....” tiba-tiba si pemilik coffee shop datang.
“Ah sajangnim...”
“Ne, jika kau mau menunggu sejenak, aku akan membuatkan waffle yang akan membuatmu kenyang.”
“Tapi hyung tanganmu kan belum sembuh benar.”
Yeol Mae yang mendengar hal itu refleks melihat ke arah tangan pemilik kafe tersebut yang memakai perban di tangan kanannya.
“Apa kau cidera?” tanya Yeol Mae khawatir.
“Gwenchana, hanya cidera kecil. Nah kau tunggu sedikit agak lama. Aku akan segera membawakan waffle untukmu. Ne?”
“Uhm.” Yeol Mae menuruti kata-kata pemilik coffee shop tersebut.

Setelah agak lama menunggu tiba-tiba ia teringat dengan Shin Ji Hoon. Malam kemarin ia mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Ji Hoon.
“Aku harus meneleponnya.” gumam Yeol Mae.
Awalnya saat Yeol Mae meneleponnya sama sekali tidak diangkat dan kemudian samar-samar ia mendengar sebuah nada dering bersamaan dengan datangnya sang pemilik coffee shop yang sedang membawa pesanannya.

Mata mereka saling menatap.
Sepertinya yang mereka pikirkan sama. Setelah meletakan nampan di meja. Pemilik coffee shop mengangkat ponsel miliknya dan berkata “Ne, Yeol Mae ssi aku adalah Shin Ji Hoon.”
Saking terkejutnya Yeol Mae hampir terjatuh dari bangku tempatnya duduk
Dengan sigap Ji Hoon menarik pinggang Yeol Mae dengan tangan kanannya, tanpa sadar tangannya tersebut sedang cidera.


~To Be Continue~

Ji Hoon - Yeol Mae

Tidak ada komentar:

Posting Komentar