Kamis, 17 Februari 2011

That Person Is You ( Geu Saram Geudaeraneun Geol )

Genre : Romance
Cast
Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
Kim Rae Woon

Rating : 15+

MIANHE......itu kata yg terucap saat pertama kali ia menciumku. Kala itu umurku baru saja 14th.
Tepat saat hari ulang tahunku.
Itu adalah ciuman pertamaku mungkin itu yg membuatnya merasa bersalah.
Sejak saat itu ia tidak pernah menampakan wajahnya di hadapanku lagi.
Kudengar ia dan keluarganya pergi ke luar negeri.

Rasanya aku bagai sampah yg terbuang. Aku membuang semua fotoku bersamanya.
Dan saat itu juga aku menganggap cinta itu tidak ada. Aku berubah dingin kepada tiap namja yg mendekatiku. Hingga sekarang saat umurku 20th dan kuliah sudah banyak namja yg kutolak. Tak ada yg benar2  ada di hatiku.
Sampai suatu ketika seorang namja datang padaku memohon untuk menjadi kekasihku.
“Mwo? Kau tidak salah. Kau ini baru SMA berani2nya kau mengajak yeoja yg lebih tua darimu untuk menjadi kekasihmu?”ledekku.
“Tepatnya kelas 3 SMA dan umurku 17th. Aku tidak perduli, aku menyukaimu dan kurasa alasan itu sudah cukup.”ujarnya polos.
“Aigo.....Kau ini...Benarkah kau ingin menjadikanku kekasihmu.”kataku dengan sedikit menggodanya, mendekatkan tubuhku kepadanya. Dan kulihat wajah polosnya tidak bergeming.
“Namamu?”tanyaku jutek.
“Cukup panggil aku Jae Eun.”jawabnya.
“Joneun.......”belum sempat aku meneruskan kata2ku ia pun melanjutkan.
“Kim Rae Woon, umur 20th tgl lahir 30 desember. Dan...”
“Cukup....”kataku.

“Apa kau benar2 ingin jadi pacarku?”tanyaku memperjelas lagi.
“Nde, aku ingin kau jadi pacarku.”jawab Jae Eun polos.
“Omo, baiklah kuberi kau waktu 2 minggu untuk menjadi kekasihku. Tidak lebih dari itu.” jawabku dan pastinya ia akan menolaknya. Itulah salah satu cara aku menolak namja.
“Baiklah.” jawab Jae Eun.
“Aish....Bocah ini.....Kenapa ada bocah yg polos bahkan mendekati pabo sepertinya.”batinku
“Kalau begitu mulai hari ini kita pacaran. Kau mau aku berbuat apa?”godaku.
“Hem.....Kencan.....”jawabnya lagi.
Kuiyakan keinginannya.

Sungguh aku tidak habis pikir ternyata ia mengajakku ke taman bermain. Padahal aku terakhir pergi ke taman bermain itu waktu kelas 2 SMA.
Sangat kekanak2an sekali namun aku mengikuti kemauannya toh hanya 2 minggu aku bersamanya.
“Chakaman, kau benar2 mau mengajakku naik ke bianglala itu?”tanyaku tak percaya pada ajakannya. Ia mengangguk dan menarik tanganku menaiki bianglala.
Matanya menatap sekeliling dan kurasa ia sebenarnya takut ketinggian karna beberapa kali ia berteriak “Wow”bahkan saat kami berada di puncak bianglala ia terlihat takjub.
“Ah kyeopta.....”batinku.
“Andwae, aku tidak boleh menaruh hati pada bocah itu. Hufh.”gumamku.

“Noona....Coba kau lihat gedung2 itu terlihat sangat kecil dari atas sini. Rasanya aku ingin menggenggam semuanya dan mengambilkannya untukmu.”katanya polos.
“Aigo....Lucu sekali.”kataku seraya berusaha mengelus kepalanya. Tapi sepertinya ia tidak menyukainya karna ia menjauh dari tanganku.

Seminggu sudah aku “berpacaran” dengan Jae Eun.
Pernah suatu ketika ia dengan polosnya memintaku menjulurkan tangan dan ia memberikanku sebuah gantungan ponsel berupa kelinci kecil yg lucu. Aku sungguh takjub. Ia membuat hariku ceria. Namun cerobohnya aku, akupun menghilangkan gantungan ponsel pemberiannya.
Aku sudah yakin ia pasti marah tapi dengan polosnya ia menjawab “Gwenchanta....”
Senyumnya yg menampakan barisan giginya yg tertata rapi membuat hatiku berdesir namun aku menolak dengan tegas perasaan itu. IA ITU MASIH SMA....begitulah aku mendoktrin diriku sendiri.
Sampai suatu ketika tidak sengaja aku melihatnya masuk ke sebuah RS saat aku sedang menjenguk temanku. Aku kaget apa jangan2 ia sakit. Pikiran2 buruk menghampiri kepalaku.
Saat aku berusaha mengejarnya ternyata aku kehilangan jejaknya.
Aku duduk di salah satu bangku di lorong RS.

Lalu kuurungkan niatku untuk mencari Jae Eun lebih lama lagi. Kuputuskan untuk meneleponnya.
“Jae Eun-ah kau dimana? Aku melihatmu tadi di RS.”kataku.
“Mwo? Tapi aku sedang berada di depan rumahmu noona.”jawabnya.
“Rumahku? Tapi...Tadi aku jelas melihatmu masuk ke RS.”kataku lagi berusaha menegaskannya lagi.
“Noona aku benar2 sudah ada di depan rumahmu. Aku ingin mengajakmu nonton.”katanya lagi.
Lalu aku bergegas kembali ke rumah namun tak sengaja kulihat samar2 dari kejauhan seorang pasien terbaring dengan berbagai peralatan medis tersambung ditubuhnya. Wajah orang itu tak jelas kulihat karnaterhalang masker oksigen.

Akupun mengacuhkannya dan melangkahkan kakiku namun terdengar suara orang yg kukenal memanggil namaku. Saat aku berbalik tak ada seorangpun. Aku semakin gemetar ketakutan.

Akhirnya 2minggu pun tiba, aku mengajak Jae Eun bertemu. Aku memutuskan untuk membuat kenangan yg indah di hari terakhir kami “pacaran”
“ Jae Eun, hari ini aku akan membuat harimu tak bisa dilupakan.”kataku. Namun ada yg aneh pada raut wajahnya sepertinya ia tahu aku akan berpisah dengannya.
Kugandeng tangannya yg hangat, aku merasa sangat nyaman tiap kali menggenggam tangan Jae Eun.
Kami menonton film bersama. Tapi tidak seperti biasanya ia hanya diam menatap layar bioskop tanpa sedikitpun menoleh kepadaku.
Sepulang dari menonton film aku mengajaknya ke sebuah taman di tengah kota.
Kami berjalan berdampingan tapi kali ini ia tidak menggenggam tanganku.
Sudah sore ini waktunya, aku menarik nafas dalam2.
“ Jae Eun-ya, ada yg ingin aku bicarakan tentang hubungan kita dan seperti kau tahu ini sudah 2 minggu dan......”tiba2 Jae Eun mencium bibirku, ciuman yg hangat dari bibirnya yg tipis membasahi bibirku.
“Semua ini tidak benar.”batinku. Aku membuka mataku dan mendorong Jae Eun.
“Mianhe.” kata Jae Eun.
“MWO! APA KAU BILANG MIANHE.”
PLAKK....Tanganku menampar pipinya. Entah kenapa aku kesal dibuatnya. Dan akupun berlari menjauhinya.

“Sial kenapa ia harus menciumku dan bilang maaf padaku. Tunggu.... Kenapa aku merasa tidak asing dengan kata itu.”gumamku.
Akupun berbalik dan berlari ke taman itu namun tak kulihat Jae Eun dimanapun.
Kucoba meneleponnya namun ponsel nya tidak aktif.
Aku menangisi kebodohanku. Rasanya aku sangat kehilangannya. Bodohnya aku, aku tidak tahu dimana ia tinggal, dimana sekolahnya. Awalnya aku hanya ingin bermain2 dengannya dan tidak mau mengenal ia lebih jauh. Tapi aku menyesal sungguh sangat menyesal.

Author POV.
Ia melihat ponselnya dan membuka galeri foto mencoba mencari foto2 Jae Eun namun betapa terkejutnya ia tak ada satupun foto Jae Eun. Yang ada hanya foto dirinya yg harusnya sedang berfoto bersama Jae Eun yg nyatanya ia hanya foto sendirian.
Bahkan ia sempat kembali ke tempat dimana ia berfoto di photobox. Tapi orang di photobox itu bilang ia tak pernah melihatnya berfoto dengan seorang namja tapi hanya seorang diri.
Ia pun kembali ke bioskop tempat ia menonton bersama Jae Eun. Saat itu mereka membeli karcis bersama namun penjual ticketnya hanya bilang ia juga tidak melihat Jae Eun.
Ia dibuat gila oleh Jae Eun.
End Author POV.

“ Jae Eun dimana kau.......”batinku.
Lalu aku teringat RS itu. Tempat aku pernah melihatnya disana. Aku harus memastikannya.
Aku tidak gila dan Jae Eun itu nyata.

“Ya benar, ini dia RS itu. Aku harus membuktikannya. “batinku.
“Itu bukannya Jae Eun.” kataku saat melihat sosok Jae Eun di lorong RS dan aku berlari sekuat tenaga.
Namun lagi2 keberadaan Jae Eun menghilang.
“Rae Woon....Kim Rae Woon, kau kah itu nak?”seseorang memanggilku.
Aku berbalik dan kulihat seorang ahjumma mendekatiku.
“Nugu?”tanyaku.
“Kau tak ingat imo. Aku ibunya Hyukjae.”
“Mwo? Imo bagaimana anda bisa disini? Dimana Hyukie oppa?”tanyaku panik.
“Hyukjae ada disini. Di kamar itu.”kata imo seraya menunjukan jarinya ke sebuah kamar pasien yg pernah aku lihat sebelumnya. Aku berjalan mendekati tempat tidurnya dan berdiri di sampingnya.
“Imo, ini benar2 Hyukie oppa?”tanyaku.
“Ne, dulu ia mengalami kecelakaan sepulang ia dari ulang tahunmu. Ia mengalami penggumpalan darah di otaknya yg menyebabkannya koma dan tidak sadarkan diri hingga sekarang.”jawab imo sambil meneteskan air matanya. Kulihat parasnya yg semakin menua.
Imo meninggalkan kami berdua. Aku menatap lembut wajah Hyukie oppa yg memucat.
Kubelai wajah namja yg terbaring lemah itu. Kugenggam tangannya.
Disini terbaring namja yg memberikan ciuman pertama kepadaku. Aku tidak mengenali wajahnya kini yg sudah berubah seiring perjalanan waktu selama 6th ini. Dan selama itu pula ia terbaring lemah tanpa daya di RS ini 1th lalu, sebelumnya ia dirawat di Amerika.
“Oppa, ironal...Jebal, nae bogo shipoyo.”
Air mataku menetes di kedua telapak tangannya.

Hampir tiap hari aku menjenguk Hyukie oppa di RS. Tapi bayanganku tentang Jae Eun sama sekali belum menghilang. Aku bahkan meragukan kesadaranku.
“Apakah benar Jae Eun yg selama 2 minggu bersamaku hanya khayalanku saja?”batinku.

Tanggal 30 Desember, hari ulang tahunku.
Sudah 6th lamanya aku berpisah dengannya, di hari ulang tahunku.
Sepulang dari kuliah aku langsung menjenguknya di RS.
Kulihat imo tertunduk lemah di kursi panjang yg berada tepat diluar kamar Hyukie oppa dirawat sambil memegang sebuah buku besar yg seperti album foto.
Aku mendekatinya seraya berkata, “Imo, waeyo? Imo menangis?”
Ia memelukku erat, “Rae Woon-ah, eotteokae? Dokter bilang mereka harus melepaskan seluruh alat bantu di tubuh Hyukjae.”
“Mwo? Tapi oppa tidak bisa hidup tanpa itu semua.”kataku dengan penuh amarah.
“Ne, ara.”kata imo dan kembali memelukku sambil terisak. Aku berusaha keras menahan bulir2 air mataku demi imo.
Kulihat Dr. Jang mendekat, imo segera melepaskan pelukannya.
“Mrs. Lee ada yg perlu kami bicarakan tentang tindakan medis yg akan kami lakukan untuk putra anda.”kata Dr. Jang.
“Andwae, oppa pasti bisa sadar dan pulih Paksaengnim*.” (dokter)
“Sebenarnya berat bagi kami memutuskannya tapi kami rasa ini yg terbaik untuknya daripada ia harus menderita lebih lama lagi.” bak petir di siang hari, aku merasa sesak mendengar kata2 paksaengnim. Imo makin keras menangis. Dan aku merangkul tubuhnya.
“Yeobo, waeyo?”tanya Samchon yg baru saja tiba.
Paksaengnim menjelaskan hal yg sama kepada Samchon. Mereka memutuskan untuk berunding di kantor Dr. Jang.

Aku berjalan lemah ke kamar oppa, tak sengaja aku menyenggol album foto yg di genggam imo tadi.
Aku berdiri di samping Hyukie oppa dan menyapanya. “Annyeong Oppa...”
Kuambil kursi dan aku duduk persis di sampingnya. Kubuka halaman per halaman album foto itu.
Senyumku mengembang saat melihat foto oppa kecil.
Pertumbuhan demi pertumbuhan oppa dari tahun ke tahun terkumpul dalam album kenangan itu.
Dan kulihat fotoku bersama oppa. Aku mengingat kembali kejadian di masa lalu itu.

Aku Kim Rae Woon umur 12th dan Lee Hyukjae yg biasa aku panggil Hyukie oppa berumur 14th. Kami saling mengenal karna kami bertetangga, ia selalu usil kepadaku. Aku dan oppa sama2 anak tunggal dan aku selalu saja bergantung kepadanya. Teriakanku yg memanggil namanya selalu ia balas dengan senyuman yg sangat manis. Saat ia tersenyum bisa kulihat barisan giginya yg rapi dan gusinya terlihat saat ia tersenyum lebar. Matanya menyipit menampakan “smiling eyes”.

Kini yg kulihat adalah Hyukie oppa yg tanpa daya. Kejailannya tak lagi ada. Senyumnya pun tak lagi menghiasi wajahnya. Aku merindukannya sangat merindukannya.
Kubuka lagi halaman berikutnya. Terlihat seorang namja terbaring di tempat tidur di dampingi imo yg memegang sebuah kaus bergambarkan dragonball yg sangat digemari Hyukie oppa lalu samchon memegang sebuah kue tart saengil dengan dua lilin angka 1 dan 7.
Itu adalah sweet seventeen Hyukie oppa.
“Mwo? Itu ….Wajah itu bukankah itu Jae Eun, ne...itu Jae Eun. Jangan2 yg bersamaku waktu itu....”aku melihat ke arah Hyukie oppa. Wajah oppa saat berumur 17th dengan wajah Jae Eun sangat mirip. Bahkan kaus yg dipegang oleh imo itu juga sama seperti yg Jae Eun pakai.
“Oppa......Kau Jae Eun kah?”tanya ku sambil menangis memukul pelan tubuh oppa.
“Oppa...Irona!”aku semakin menangis sambil terisak. “Jebal oppa.....Aku tidak mengerti apa yg terjadi tapi kumohon aku tidak mau kehilanganmu. Jangan tinggalkan aku oppa... Tuhan kumohon....”
Aku yg tak sanggup menahan semua kesedihan dan semua tanya tentang keberadaan Jae Eun. Akhirnya hanya bisa menangis dengan kepala menunduk bertumpukan punggung tangan oppa.
Air mataku membasahi tangannya. Kurasakan sesuatu yg tidak biasa, aku merasakan ada pergerakan pada tangan oppa. Sontak aku terkejut dan memegang tangan oppa sekali lagi memastikan yg aku rasakan tadi.

Kudengar suara lirih yg berasal dari mulut oppa. “Rae...Woon....”
Aku terperanjat dan melihat wajah oppa kulihat matanya tebuka walau ia belum jelas melihat ke arah ku. “Oppa....Kau sudah sadar....Tuhan terima kasih.”
Aku sungguh bersyukur. Lalu sekuat tenaga aku berlari ke ruang Dr. Jang.
Imo, Samchon dan Dr. Jang bersamaku datang ke ruangan Hyukie oppa.
Aku, imo dan samchon diminta keluar sebentar oleh Dr. Jang.

2 minggu kemudian.
Aku dan Hyukie oppa berada di taman RS. Aku mendorong kursi roda oppa, karna belum pulih benar dan masih dalam masa pemulihan aku menemaninya melalu berbagaii terapi dan oppa belum bisa lepas dari kursi roda.
Aku selalu memberinya semangat menjalani semua terapi tersebut.

Tanganku memegang pendorong kursi roda, kami berdua menghirup udara segar di taman.
“Rae Woon, gomawo. “
“Wae?”
“Untuk mencintaiku. Dan kembali untukku.”
“Nde, oppa. Mianhe.”
“Mianhe? Wae?”
“Karna sempat membencimu oppa.”
“Gwenchanayo, harusnya oppa yg minta maaf padamu.” katanya lembut dengan tangan kanannya menggenggam tanganku.
“Oppa...Satu hal yg ingin kutanyakan kenapa minta maaf saat menciumku dulu. Dan saat alam bawah sadarmu muncul di hadapanku sebagai Jae Eun lalu menciumku?”akhirnya aku menanyakannya.
“Aku hanya takut dan merasa bersalah mengambil ciuman pertamamu tanpa seizinmu. Aku takut kau tidak suka itu.”
“Ya! Oppa, kau ini kenapa berpikir seperti itu! Kau pikir aku tidak menginginkannya!”kataku dengan nada agak sedikit keras dan tak kupungkiri wajahku memanas dan berwarna merah karna malu.
Oppa tahu itu dan tertawa. Saking lepasnya ia tertawa, ia tertawa sambil memegang perutnya.
“Oppa...berhenti tertawanya.....”kataku sambil cemberut.
Tapi oppa terus tertawa. Berapa kali pun aku memintanya untuk berhenti tertawa.
Lalu......Cup.....Aku mencium pipinya. Dan ia berhenti tertawa.
Sekarang giliran aku yg tertawa.
“Ya! Kim Rae Woon kau mau kubalas ya....”ancamnya padaku.
Ia mengejarku layaknya pembalap dengan kursi roda. Tapi aku terus meledeknya.
Kami sudah seperti anak kecil.
Terakhir ia menarik pinggangku dan menaikannya dipangkuannya.
“Omo...Oppa....”teriakku histeris.
“Saranghaeyo Kim Rae Woon....”teriak oppa sambil melajukan kursi rodanya dengan aku di pangkuannya.
“Na tto saranghaeyo Hyukie Oppa......”akupun tak kalah berteriak.
Tawa kamipun membahana. Tak peduli dengan sekitar kami.

I Have a Lover Lyrics
By : Lee Eun Mi


ajikdo neon honjangeoni
You ask me, ‘are you still alone?’
mureoboneyo nan geujeo useoyo
And I just laughed
saranghago itjyo saranghaneun saram isseoyo
I am loving someone, I have someone to love
geudaeneun naega ansseureoun geongabwa
You seem to worry about me,
joheun saramitdamyeo hanbeon
Telling me there is someone
mannabora malhajyo
that you would like me to see

Chorus:
geudaen moreujyo naegedo
Do you know that
meotjin aeini itdaneun geol
I do also have a great lover?
neomu sojunghae kkok sumgyeodueotjyo
Someone that I cherish so much that I had to hide
geu saram naman bol su isseoyo
That someone, only I can see him
nae nuneman boyeoyo
He is only visible to my eyes

nae ipsure yeongwonhi damadulgeoya
I Will keep him locked in my lips forever
gakkeumssik chaoreuneun nunmulman algo itjyo
Only the tears that fill my eyes know
geu saram geudaeraneun geol
That person is you

naneun geu saram gatgo sipji anhayo
I don’t want to have him
yoksimnaeji anhayo
I don’t want to be greedy
geunyang saranghago sipeoyo
I just want to love him

Back to Chorus:
geudaen moreujyo naegedo
Do you know that
meotjin aeini itdaneungeol
I do also have a great lover?
neomu sojunghae kkok sumgyeodueotjyo
Someone that I cherish so much that I had to hide

geu saram naman bol su isseoyo
That someone, only I can see him
nae nuneman boyeoyo
He is only visible to my eyes
nae ipsure yeongwonhi damadulgeoya
I Will keep him locked in my lips forever
gakkeumssik chaoreuneun nunmulman algo itjyo
Only the tears that fill my eyes know
geu saram geudaeraneungeol
That person is you

algetjyo na honja aningeollyo
Can you see I am not alone
ansseureowo marayo
So don’t worry about me so much
eonjengan geu saram sogaehalkkeyo
I’ll introduce him to you someday
ireoke chaoreuneun nunmuri malhanayo
Can you hear my tears filled up in my eyes say?
geu saram geudaeraneun geor

That person is you

http://www.youtube.com/watch?v=gG6qGNz0N1k

Tidak ada komentar:

Posting Komentar